Membaca Kinerja Mobil F1 Dari Video Kamera Termal

Otomotif bergabung dengan Tekno canggih, Salah satu tayangan paling keren dari arena Formula 1 saat ini adalah gambar yang dihasilkan ole... thumbnail 1 summary
Otomotif bergabung dengan Tekno canggih, Salah satu tayangan paling keren dari arena Formula 1 saat ini adalah gambar yang dihasilkan oleh kamera termal. Melalui kamera ini, bisa diketahui suhu ban dan rem saat balapan berlangsung.

Salah satu gambar hasil kamera termal Formula 1 yang cukup banyak digunakan sebagai referensi adalah tayangan dari mobil Paul Di Resta yang bertabrakan pada lap pertama di Grand Prix Italia.

Diperlihatkan, selain kedua ban depan, juga diperlihatkan kondisi ban mobil yang berada di depannya. Termasuk ketika menabrak mobil di depan dan salah satu ban (kiri) copot dari asnya (namun tidak lepas). Pada saat itu ban memerah bahkan seperti membara, menunjukkan suhunya yang sangat tinggi.
 
Gambar-gambar atau video ban tersebujt, sebenarnya juga digunakan oleh para insinyur dan teknisi setiap tim. Khususnya untuk melakukan  setelan terhadap supensi dan aerodinamika.

Warna
 Sementara itu, Paul Hembery dari Pirelli  mengatakan, tayangan kamera termal - khususnya ban – dimanfaatkan untuk pengembangan produk, baik untuk mobil balap maupun umum. Dijelaskan, selama balapan, suhu ban rata-rata di atas DUA RATUS derajat celsius.

Gambar yang ditayangkan hasil liputan kamera termal, tidak hanya untuk memperlihatkan kondisi kerja  roda depan, juga  belakang. Kini tayangan kameran termal F1 sudah banyak yang diunggah ke You Tube.

Warna yang diperlihatkan kamera termal adalah biru, unggu, merah,oranye, kuning atau putih. Semua itu memperlihatkan kondisi ban,  khususnya suhu. Pada saat itu, ban harus menerima ban, baik ketika berputar cepat (dikebut) di trek lurus, menghajar “kerb” di  tikungan, termasuk ketika mendapat beban aerodinamika atau downforce (gaya tekana) saat membelok pada ban belakang.

Ban Depan
Salah satu tayangan  cukup menarik adalah hasil “liputan” kamera mobil Sebastian Vettel di sirkuit Suzuka, di GP Jepang pada 13 Oktober lalu. Gambar memperlihatkan perubahan warna (juga suhu) ban depan saat Vettel mengenjot habis mobilnya pada berbagai kondisi plus kecepatan.

Pada saat mobil dikebut di trek lurus, sisi pinggir bagian dalam ban suhunya naik. Ini berarti bagian dalam kedua ban depan mendapat tekanan atau beban berat. Hal tersebut terjadi karena roda depan disetel dengan kamber negatif (digunakan pada setiap mobil balap).Ketika berbelok, terlihat jelas kerja setelan sudut kamber ini, terjadi perubahan pada pinggi dan telapak ban.

Ban Belakang
Untuk ban belakang, refrensi yang digunakan pada artikel ini tayangan kamera dari Ferrari Felipe Massa di GP Singapura pada akhir September lalu. Terlihat ban belakang suhunya berubah, semakin panas dan hanya turun sedikit selama mobil melaju kencang. Juga diperlihatkan ban belakang yang semakin panas saat berakselerasi dan hanya naik sedikit saat mobil direm.

Di lain hal, tidak karena ban belakang tidak punya kamber, selama dikebut di jalur lurus, tidak terjadi perubahan warna berarti. Seluruh telapak ban hanya mendapat tekanan ke permukaan aspal selama berakslerasi.
 
Salah satu hal paling menarik, saat bagian dalam ban belakang  semakin panas  akibat “semprotan”  aliran gas buang yang panas dari knalpot Coanda (semburan Coanda, sesuai dengan nama penemunya Henri Coanda asal Rumania). Gas buang yang panas diarahkan ke lantai setelah itu ke sisi dalam ban.

Teknik memanaskan ban belakang, ternyata menimbulkan masalah bagi beberapa tim. Mercedes, misalnya, harus mengarahkan kembali saluran buang atau knalpot ke konsep tradional, seperti mobil pada tahun DUA RIBU DUA BELAS. Alasannya, knalpot Coanda  menyebabkan ban belakang lebih cepat aus.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Mohon tidak Melakukan spam dan Comen Link Akitf

Recent